RSS

resensi buku

Prahara di Tengah Ketegangan Budaya




Judul : Only a Girl, Menantang Phoenix
Penulis : Lian Gouw
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Oktober 2010
Halaman : 385 Halaman
Harga : Rp. 65.000.
Pengadopsian kultur baru oleh sebuah masyarakat sering memunculkan guncangan. Hal ini terutama terjadi karena kultur baru memiliki nilai-nilai yang bertentangan dengan kultur lama. Tuduhan bahwa kultur lain tidak lebih beradab dari kultur yang sedang dipegang, semakin memperparah kondisi ini.

Menariknya, hal tersebut lebih banyak terjadi di kalangan "kaum tua" yang acap kali dilabeli sebagai golongan yang konservatif. Sebaliknya, di kalangan kaum muda, kultur baru dianggap lebih baik, modern, dan lebih manusiawi. Itu sebabnya mereka tidak segan untuk mengadopsinya.

Hal seperti itulah yang digambarkan dalam novel yang Only Girl, Menantang Phoenix yang ditulis oleh Lian Gouw ini. Dalam novel yang mengambil latar belakang kondisi politik dan sosial Indonesia antara 1930-1952 ini, Lina Gouw ingin menunjukkan bahwa "pertemuan" sebuah kultur dengan kultur lainnya cenderung memunculkan ketegangan tertentu.

Salah satu tokoh sentral dalam buku ini, Carolien adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang digambarkan sebagai sosok muda yang menganggap kultur Belanda lebih baik ketimbang kultur Tionghoa. Hal ini tampak dari bagaimana cara ia memandang pendidikan Belanda.

Ia pun selalu memandang bahwa kepercayaan masyarakat Tionghoa yang masih dilakukan oleh keluarganya adalah sebagai tahayul yang sia-sia. Bahkan ia pun "menutup mata" ketika keluarganya menentang pernikahannya dengan seorang pemuda keturunan Tionghoa yang berasal dari keluarga biasa-biasa.

Perkawinan Carolien memang kandas. Tetapi ia tetap meyakini kultur Belanda adalah yang terbaik. Bahkan ia berencana memberangkatkan putrinya Jenny untuk meneruskan studi di bidang hukum di Leiden, Belanda.

Tetapi semunya berubah ketika Indonesia merdeka. Kala itu pemerintahan yang sah sudah beralih ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Akibatnya, perubahan terjadi di segala bidang, termasuk bidang pendidikan.

Hal itu menyulitkan Jenny. Pasalnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menjadikan Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, termasuk di sekolah yang sebelumnya dikelola oleh Belanda, sementara Jenny tidak pernah belajar Bahasa Indonesia sebelumnya.

Dalam suasana dan kondisi seperti itulah permasalahan dan prahara menimpa keluarga Carolien. Perubahan-perubahan di bidang politik telah membawa dampak yang tidak kecil dalam keluarga mereka. Hanya dua pilihan mereka, bertahan atau menyerah.

Dari novel ber-setting Kota Bandung ini pembaca dapat melihat bahwa dunia politik, secara langsung ataupun tidak, selalu berujung pada dua hal, yakni kebaikan atau penderitaan bagi rakyat. Tinggal bagaimana pemimpin dapat melihatnya untuk menemukan solusi.

Bagi pembaca di Indonesia, buku ini akan lebih menarik jika Lian Gouw dapat secara detail menunjukkan atau menggambarkan kehidupan masyarakat Bandung pada masa itu. Dengan begitu, novel ini tidak sekadar menyajikan cerita yang menarik dan menyentuh, namun juga sebuah "catatan" sosiologis yang menawan.

Selain itu, jika saja Lian Gouw berhasil menambahkan catatan mengenai tempat-tempat bersejarah di kota Bandung pada masa itu, niscaya novel ini akan semakin mengesankan.***

Nama : Elsa widya khinanti
Kelas : XI-IA2
No     : 13

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengalaman di SMAku

wow.... itlah kata pertama yg aku ucapkan saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di SMADABO. Sekolah yg begitu luas & rindang itu membuatku terkesima walaupun bangunan-bangunan gedungnya masih merupakan bangunan lama. Tetapi bagiku itu tidaklah penting, di SMADABO aku bertujuan untuk mencari ilmu bukan untuk mencari model sekolah yang bagus.

Saat pendaftaran penerinmaan siswa baru di SMADABO di buka, akupun langsung ikut bergerombol di kerumunan para calon siswa baru untuk mengambil formulir sampai berdesak-desakan, sumpek dan puuuanass banget...

Hari pertama masuk sekolah adalah MOS. Mos ada saat SMP & SMA sangat beda jauh. Saat SMP MOSnya mungkin cuma gitu2 aja & nggak begitu seru tetapi saat SMA waahhh..... begitu sangat menegangkan, menyenangkan, seru, asyik, pokoknya campur jadi satu. Sebelum MOS pertama dilaksanakan, sebelumnya ada praMOS yang menunjukkan apa saja yang haus di bawa, dikerjakan, & dilakukan saat MOS. Saat praMOS tidak ada satupun teman SMPku cewek yang satu kelas sama aku, yang ada teman SMP laki2 yaitu, Iqbal, Makmun, dan dendi. Aku duduk sendirian di bangku belakan no.2. Tiba2 ada seorang cewek yang menghampiriku dan ingin duduk denganku. Namanya adalah Annida. Awalnya aku menganggap Annida itu pendiam tapi ternyata......... anaknya Gilaaa abieezzzss....

Peraturan MOS yang dibuat itu membuatku sangat sibuk, disuruh pake inilah.. itulah.. Jilbab aja harus pake jilbab yang segi-4 dan harus dikuncir pita warna hijau putih sesuai dgn bulan kelahirannya. Kebetulan bulan kelahiranku blan November jadi ya,,, jilbabku penuh dengan kunciran yang berjumlah 11. Malu aku diliatin banyak orang. Selain jilbab, kita juga disuruh pake alung permen relaxa warna ungu, Trus pake tas dari kardus aqua dengan sandal japit yang digantungkan di pinggir tas kardus itu, sepatu harus bertali & warna hitam, dan peraturannya masih banyak lagi dech,,, nggak biasa disebutin satu2...

Saat MOS berlangsung, teman sebangkuku adalah annida karena dia orang pertama yang aku kenal saat itu.
Setelah Mos selesai dlaksanakan selama 3 hari, akupun sudah resmi menjadi penghuni kelas X-6. Teman2 menamai kelas X-6 dengan sebutan "SECREAB (Sepuluh Enam Kreatif Abiiez)".
Di kelas X-6, aku duduk sebangku dengan Liza anak Sumberejo, dan di kelas X-6 aku dijiluki sebagai anak pendiam padahal sebenarnya aku anaknya tidak terlalu pendiam sich!!!!
Waktu itu wali kelas X-6 adalah Pak Anam guru Pkn kelas X, ketua kelasnya Arien, dan wakilnya Iqbal. Sedangkan mascot X-6 adalah Makmun. Hahaha... Lucu banget anaknya....
Saat kelas X teman dekatku adalah Annida, Siska, Maya, Irma, dan Ririn. Mereka adalah teman2 baikku. Kita sering bercanda bareng, gila-gilaan bareng, maen2 bareng, DLL. aku sangat merindukan suasana2 yang seperti itu. Jadi pengen nangis!!!!....
Setelah aku menjadi penghuni kelas X-6 selama 2thn, ternyata anak2 X-6 itu lucu2 + kompak banget. dilihat dari kebersihan kelas selalu no.1 walaupun hasil akhir tidak dapat juara 1. Trus saat liburan semester1 kemarin, kelas X-6 mengadakan camping di Trawas. Acaranya seru banget, aku nggak akan melupakn itu semua....

Setelah liburan usai, aku naik di kelas XI yaitu kelas XI-IA2. Awalnya sich aku nggak betah, rasanya pengen kembali di kelas X-6.
Di kelas XI-IA2 aku sudah kenal beberapa anak yang waktu kelas X  satu kelas sama aku dan sekarang satu kelas lagi. Mereka adalh Maya, Happy, Irma, Ika suci, Ditra, dan Dewie. Selain mereka aku juga sudah mengenal Indah dan Iqnas.

Saat ini aku duduk sebangku dengan Maya. Dulu kelasku ada di Lab.biologi tapi sekarang sudah pindah di kelas baru tepatnya di halaman belakang, Pojok sendiri dekatnya kelas XI-IA3. Memang sich kelasnya luas dan bagus tapi.. Atapnya sedikit bocor....
Sekarang ini aku sudah sangat betah di kelas XI-IA2, anak2nya juga lucu2, seru, dan pintar2. Memang masuk di jurusan Ipa itu tidak mudah. Tugas banyak, ulangannya sulit dan materinya jua sulit.... Tapi aku nggak akan berhenti untuk terus berkompetisi mendapatkan nilai yang baik...
SEMANGAT TERUS!!!!!
GOOD LUCK.......

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS